Produksi Jagung Jawa Timur memberi kontribusi 40% terhadap total produksi nasional dengan areal tanam sekitar 1.3 juta hektar. Dari luasan tersebut 75% berada di lahan kering yang tingkat kesuburan, kondisi iklim, kondisi sosial ekonomi dan tingkat pendidikan petaninya sangat beragam. Oleh karena itu, hasil Jagung antar hamparan maupun antar petani dalam satu lokasi sangat bervariasi, antara 1.0-3.5 ton per hektar (Roesmarkam et al. 2000).
Tetapi mungkin dari kita belum mengetahui bagaimana, masyarakat Madura menanam komoditi ini.Dalam hubungannya dengan peningkatan produksi tanaman pangan, Jagung mempuyai peranan penting. Akan tetapi dalam pengelolaannya banyak masalah yang ditemui. Masalah itu salah satunya adalah budidaya tanaman yang masih kurang optimal. Selama ini, petani menanam tanamannya dengan cara biasa dan tidak mengikuti aturan-aturan budidaya yang sesuai. Penyebab lain seperti tidak adanya informasi teknis budidaya yang masuk ke lokasi menjadi faktor masalah non teknis.
Masyarakat Madura , khususnya daerah Sumenep mengenal beberapa jenis Jagung lokal Madura antara lain jagung Guluk-Guluk, Manding dan Tlango. Penggunaan Jagung varietas lokal karena warna biji dan rasanya sangat diminati oleh petani setempat.
Cara tanam Jagung Lokal Madura. Sebelum tanam lahan diolah terlebih dahulu dengan pengolahan tanah cara petani. Pengolahan tanah dilakukan menggunakan tenaga sapi. Penanaman secara sebar dengan jarak 40cm x 40cm dengan populasi per hektar 62.500 tanaman. Alur penanaman dilakukan secara memutar dengan mengatur jarak antar baris bajakan 40 cm dan diikuti peletakan benih Jagung dengan jarak dalam baris benih 40 cm. Setelah benih disebar atau diletakkan, tanah kemudian ditutup menggunakan alat bajak lagi. Caranya dengan melewati tanah tengah antar barisan yang tidak disebari benih Jagung. Cara ini dilakukan karena dapat mengurangi biaya tenaga kerja.
No comments:
Post a Comment